Menemukan Harapan
dalam Kegelapan
by Sindhunata, Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta
ASAP putih telah membubung dari cerobong Kapel Sistina. Dari surga
mestinya Paus Yohanes Paulus II tersenyum gembira. Maklum, penerusnya
di dunia adalah tangan kanan dan pembantu dekatnya, Kardinal Joseph
Ratzinger. Ratzinger adalah Kepala Kongregasi Doktrin Iman Kepausan
Yohanes Paulus II. Tentunya Ratzinger akan mengamankan serta meneruskan
kebijakan dan ajaran pendahulunya.
TAK seluruhnya benar bahwa Ratzinger selalu sejalan dengan Yohanes
Paulus II. Dinamika hubungan mereka berdua sangatlah kompleks. Demikian
disimpulkan oleh penulis Jan Ross dalam mingguan Die Zeit (3 Maret
2005). Sebagai manusia, Yohanes Paulus II amat instingtif dan bereaksi
secara lebih alamiah, sedangkan Ratzinger luar biasa rasional dan penuh
dengan segala pertimbangan intelektual. Yohanes Paulus II adalah
pribadi yang penuh warna, sedangkan Ratzinger adalah pribadi yang patuh
pada keteraturan dan tak suka akan pelbagai variasi.
Berhadapan dengan agama lain, Yohanes Paulus II tetap mempertahankan
prinsipnya, tetapi ia sangat luwes dalam berdialog dan berdiplomasi.
Ratzinger pun siap berdialog dan berwacana, namun untuk itu ia sudah
memasang harga yang tak boleh ditawar, yakni jangan sampai toleransi
dijerumuskan ke dalam relativisme dan kebenaran diobral dengan murah
demi diplomasi untuk mengambil hati.
Memang Yohanes Paulus II adalah komunikator ulung, sedangkan Ratzinger
lugas dan apa adanya. Yohanes Paulus II adalah pemimpin yang penuh
karisma, sedangkan Ratzinger tampaknya tak menganggap karisma itu
sebagai bagian yang penting dari kepemimpinannya. Pada kemunculannya
sebagai Paus Benediktus XVI, ia memuji pendahulunya sebagai "yang
Agung", sementara ia sendiri menyebut dirinya "pelayan yang sederhana".
Katanya, Tuhan sendiri yang tahu bagaimana Dia harus bekerja dengan
peralatan yang tidak memadai, seperti pribadinya.
HIDUP spiritual Yohanes Paulus II sangat diwarnai oleh devosi agama
rakyat. Baginya, penampakan Bunda Maria tahun 1917 di Fatima, Portugal,
adalah sesuatu yang mempunyai arti istimewa dan pada tahun 2000 ia
memperbolehkan bahwa rahasia ketiga yang terkandung dalam penampakan
itu dibuka di depan umum. Ratzinger menanggapi devosi dan kehangatan
atasannya itu dengan amat dingin. Ia bilang, semuanya itu biar tinggal
sebagai "pewahyuan pribadi", yang tak harus dipercayai oleh orang
Katolik.
Sebelum Yohanes Paulus II, para Paus pendahulunya selalu menggunakan
kata "kami" bila mereka menuliskan suatu ajaran yang penting. Itulah
yang disebut tradisi majestatis pluralis dalam sejarah kepausan. Paus
Yohanes Paulus II tak lagi memakai tradisi itu. Ia sering memakai
kata "saya" dan bukan lagi "kami". Ratzinger sebenarnya tidak setuju
dengan cara atasannya itu. Baginya jelas, dengan kata "kami"
dimaksudkan bahwa yang berbicara bukan pribadi atau orang perorangan,
tetapi seluruh gereja, yang lebih besar daripada setiap anggotanya,
termasuk Paus sendiri. Menurut Ratzinger, dengan memakai "kami",
seperti dalam tradisi majestatis pluralis itu, orang diminta untuk
merendahkan dan mendisiplinkan dirinya pada seluruh tradisi gereja.
Selama 26 tahun ini gereja hampir tak terpisahkan dari pribadi Yohanes
Paulus II, pemimpin karismatis yang identik dengan "keakuan" Karol
Wojtyla. Ratzinger sebagai Paus Benediktus XVI pasti akan
menghapus "keakuan" itu dan memakai kembali "kekamian" sesuai dengan
tradisi majestis pluralis. Dengan demikian, bukan dirinya, tetapi
seluruh gereja sebagai institusi yang harus mengedepan dan memimpin.
Selama 26 tahun gereja seperti telah menyihir dunia karena kehebatan
dan karisma seorang pemimpin bernama Karol Wojtyla. Sekarang di bawah
Benediktus XVI, gereja harus tampil dengan kekuatannya sendiri, bekerja
dengan normal, tanpa menyandarkan diri pada gegap gempita dan
kegemilangan karisma pemimpinnya.
Ratzinger sendiri jelas tidak ingin menampilkan gereja yang
triumphalis. Ia pernah bilang, "Selama gereja masih berziarah di dunia,
tak ada alasan baginya untuk membanggakan karyanya. Kebanggaan itu bisa
lebih berbahaya daripada kegagahan umbul-umbul dan mahkota kepausan,
yang membuat kita lebih ditertawakan daripada dibanggakan orang."
ADA anggapan bahwa Ratzinger diuntungkan oleh posisinya yang penting di
Vatikan. Dalam bahasa kekuasaan, posisinya dapat menggiring opini para
kardinal untuk memilihnya sebagai Paus. Menurut Jan Roos, anggapan
demikian sama sekali tidak pas untuk dikenakan pada Ratzinger.
Ratzinger tak mempunyai naluri politik dan ia bukanlah Machtmensch,
manusia dengan kodrat ingin berkuasa. Dari lubuk hatinya yang terdalam,
ia adalah seorang intelektual, tepatnya seorang profesor teologi yang
khas Jerman.
Ia pernah bilang, tugasnya sebagai Kepala Kongregasi Doktrin Iman di
Vatikan sungguh seperti suatu beban. Kalau diizinkan, ia lebih suka
menulis buku, di mana ia bisa menuangkan pendapatnya dengan lebih
bebas, seperti teolog lainnya. Namun, Yohanes Paulus II tak pernah mau
melepaskannya. Terpaksa demi tugas tersebut ia harus berpantang
terhadap kerinduannya untuk menjadi intelektual dan teolog murni.
Padahal, ia adalah seorang intelektual berkaliber akbar. Menurut Jan
Roos, jika jubah merah lembayung kekardinalannya ditanggalkan, ia patut
disejajarkan dengan intelektual Jerman masa kini yang berkaliber akbar,
seperti Jürgen Habermas, Ralph Dahrendorf, dan Hans-Magnus Enzensberger.
Sebagai teolog dan tokoh gereja, Ratzinger dicap konservatif.
Penstempelan ini kiranya perlu disimak dengan lebih hati-hati. Dalam
konstelasi politik, Ratzinger adalah segenerasi dengan Ronald Reagan,
Margareth Thatcher, dan Helmut Kohl. Tokoh-tokoh ini tampil di tahun
delapan puluhan, di mana era sosial-demokrasi sedang memudar. Mereka
ini curiga terhadap utopia kebebasan, lalu berpaling pada cita-cita
moral klasik. Menghadapi tantangan pasar, ekonomi sosialis ternyata
kedodoran. Mereka lalu berpaling pada realisme pasar dan sinis terhadap
utopia kesamarataan. Dengan latar belakang ini bisa dimaklumi bila
Ratzinger curiga terhadap teologi pembebasan di Amerika Latin, yang
mencanangkan perubahan masyarakat tanpa terlalu curiga terhadap metode
dan cita-cita revolusi marxis.
Namun, dasar dari konservatisme Ratzinger lebih daripada sekadar
realitas sosial itu. Katanya, bila gereja berpaling ke dunia, tetapi
dengan meninggalkan "kebodohan salib", yang diajarkan oleh Yesus
sendiri, ia akan gagal dalam memperbarui dirinya, malahan ia akan
mengalami kehancurannya. Mengenalkan kembali kebodohan salib itulah
yang menjadi tugas gereja di tengah dunia yang hanya ingin meraih
sukses, seakan semuanya hanya bergantung pada dirinya sendiri. Christus
totus, semuanya adalah Kristus, yang ada di dalam dan bersama gereja,
itulah pegangan yang disarankan Ratzinger untuk menghadapi dunia yang
kebablasen dalam memperjuangkan otonominya itu.
Lain dengan Karol Wojtyla yang mudah berspekulasi karena ia adalah
filsuf, Ratzinger adalah seorang teolog yang harus dengan kepala dingin
membela ajaran-ajaran iman. Fides quaerens intellectum, iman yang ingin
bernalar: Tanpa nalar iman akan mati, tetapi penalaran sendiri akan
kosong dan menguap jika ia tidak lahir dari penghayatan iman. Itulah
yang dikerjakan oleh Ratzinger.
Dan untuk itu ia sepaham dengan teolog Henry de Lubacs serta Hans Urs
von Balthasar, yang dihormatinya. Keduanya mengajarkan, bila serius,
pemikiran itu pada kodratnya adalah bersahaja. Karena itu, mereka yang
mau berpikir serius harus lama bersekolah untuk merendahkan dirinya.
Jadi hanya dengan menghilangkan dirinya ia akan menemukan dirinya.
Konkretnya, hanya dalam gereja dan tradisinya, seorang teolog bisa
menemukan orisinalitas pemikirannya.
Jelas, konservatisme Ratzinger bukanlah suatu sikap fundamentalis,
tetapi suatu gravitas (bobot) penalaran dari warisan iman. Ratzinger
mengalami sendiri betapa sulitnya mempertahankan gravitas itu di tengah
dunia diamuk oleh ateisme, sekularisme, dan relativisme ini. "Dengan
mata kepala sendiri saya menyaksikan betapa wajah yang kejam dari
kesalehan ateistis tampil tanpa tedeng aling-aling," kenangnya tentang
revolusi Mei 1968, yang amukannya sempat ia rasakan di ruang kuliah
ketika ia mengajar.
Untuk menghadapi semua tantangan itu, gereja kiranya harus sanggup
menderita, seperti diajarkan oleh hidup para rasul sendiri. Menurut
Ratzinger, penderitaan harus kembali mendapat ruang dalam hidup kita.
Ia bilang, kita masih hidup di dunia, tak mungkin dunia ini kita
lompati begitu saja. Karena penderitaan dan kesedihan adalah bagian
dari hidup ini, maka keduanya harus kita terima. Hanya dengan mau
menerima penderitaan dan kesedihan kita dapat belajar untuk menemukan
kembali harapan dalam kegelapan.
Jelas, di bawah Paus Benediktus XVI, gereja akan diajak mencari kembali
gravitas-nya. Untuk itu Paus pasti akan mengajak umatnya untuk menjadi
lebih sederhana, bersahaja, dan ingat kembali akan tradisi asketisnya.
Sindhunata Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta
<< back